Pagi
buta sekitar jam tiga subuh. Suasana desa Sepok Laut Kecamatan Sungai Kakap
sudah ramai masyarakat yang beraktivitas. Baik orang dewasa sampai anak-anak
juga siap akan menaiki kapal berukuran besar. Tapi tujuan mereka subuh-subuh
dini hari bukan untuk pergi melaut, tapi mereka akan pergi ke Sungai Kakap. Ya.
Pagi sekali kami warga Sepok Laut berangkat untuk datang pada acara Robo`robo`.
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2017
Senin, 25 Januari 2016
Tradisi Beratam (2)
Gambaran Kegiatan
Beratam setelah Tahun 1999
Akhirnya bisa juga saya
menyelesaikan tulisan saya yang kedua ini. Dengan judul yang sama dan cerita
yang sama pula. Namun kali ini berbarengan dengan perubahan dari tahun ke
tahun, ketika saat orang melakukan tardisi Beratam ini. Berikut saya uraikan
lagi.
Dalam masyarakat Bugis,
orang tuanya akan sangat malu bila anaknya tidak pandai mengaji. Makanya untuk
memberitahukan kepada khalayak banyak, perlu suatu acara yang dirasakan orang
cukup besar. Tapi dalam hal ini, demi memberikan kejatidirian dan sebuah
identitas budaya mereka tetap melakukan demi anakanya tersebut.
Setelah tahun 1999,
dari tahun 2000-an cukup banyak perbedaan secara signifikan. Perbedaan itu
cukup mendasar, dimana dulu belum ada listrik dan kini setelah adanya listrik, respon
warga terhadap acara semakin kurang disebabkan banyaknya keluarga orang berdiam
di rumah untuk menonton televisi. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk Beratam
tetap sama seperti Al-Quran, sajadah, seperangkat alat sholat, ayam panggang,
pulut warna kuning, juga untuk menghiasinya dibuatlah semacam replika kapal
sebagai tempat anak itu untuk mengaji nanti.
Jumat, 22 Januari 2016
Tradisi Beratam (1)
Gambaran
kegiatan Beratam sebelum tahun 1999.
Walaupun
banyak yang tahu atau yang masih menjaga tradisi ini di Kampung Teluk Harapan Desa
Sepok Laut tapi masih belum banyak orang yang menulis literatur tentang beratam
ini. Dan dalam hal tulisan dan publikasi tradisi ini yang ada di Sepok Laut sangat
jarang dilakukan sehingga menyebabkan
pengetahuan masyarakat menjadi terbatas.
Mengapa
tema ini menarik untuk di tulis?
Pertama, karena penulis tertarik untuk menulis
ini karena dari tahun ke tahun tradisi ini cukup berbeda secara signifikan untuk
itu, tradisi Beratam sebelum tahun 1999 menggambarkan tentang bagaimana tradisi
ini yang dilaksanakan dengan suasana seadanya disebabkan belum adanya masuk
jaringan listrik dan tradisi Beratam sesudah tahun 1999 menggambarkan tentang
respon masyarakat terhadap Beratam itu sendiri yang pada perubahannya dimulai
dengan masuknya jaringan listrik. Tulisan ini sebagai pembanding dari dulu
hingga sekarang. Dalam perkembangan yang pesat ini, tradisi ini bergeser.
Jumat, 25 Desember 2015
Saro'an (KKL 3)
Saro'an, begitulah bahasa yg sering digunakan oleh masyarakat Sambas.
Khususnya di desa Matang Danau kecamatan Paloh. Sudah menjadi tradisi
bahwa ketika saat melaksanakannya, orang2 disini bergotong royong
membantu satu dengan yg lainnya.
Senin, 07 Desember 2015
Robo'-robo' di Sungai Kakap
Tulisan ini dilatar belakangi pada bentuk dari keberukunan antar etnis di Sungai kakap. fokus tulisan ini melihat bagaimana keberagaman antar etnis seperti pada etnis Bugis, Melayu dan Tionghoa pada acara tradisi Robo’-robo yang dilaksanakan pada setiap tahunnya pada bulan Syafar. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman budaya yang berdemensi pada multikulturalisme pembangunan bangsa.
Jumat, 23 Januari 2015
Makan Dalam Kelambu
Mungkin sudah sering dibahas tentang yang namanya “makan dalam kelambu’ dan sebagian masyarakat kebanyakan sudah mengetahui tradisi ini. Ini merupakan adat budaya orang Bugis turun-temurun dalam tradisinya. Karena ritual ini dilakukan oleh orang Bugis, makan dalam kelambu ini ritualnya sangat menarik sebab makannya harus di dalam kelambu. Adat istiadat suku Bugis banyak sekali ritualnya, dan ritual tersebut hampir tidak asing lagi kedengarannya oleh orang melayu. Seperti : buang-buang, lasuji, dan robo-robo dan masih banyak yang lain.
Makan dalam
kelambu di Sepok Laut tidak berbeda dengan daerah lainnya. Prosesi makan
dalam kelambu ini sudah turun temurun dari nenek moyang suku
Bugis, biasanya ritual ini dilakukan pada waktu ada hajatan seperti,
perkawinan, khitanan (sunatan), naik ayun (naek tojang). Tapi untuk masyarakat
Sepok Laut biasanya hampir tiap tahun melaksanakannya. Inilah
tradisi Makan dalam Kelambu di Desa Sepok laut. Bukan hanya acara kawinan
saja tapi juga dilaksanakan tiap tahun atau lebih dan berkumpul satu
keluarga.
Minggu, 11 Januari 2015
Naek Tojang
Naek Tojang
Tradisi ini
mungkin bagi masyarakat perkotaan sudah jarang ditemukan. Tapi bagi kalangan
masyarakat Sepok Laut khususnya di Kampung Teluk Harapan masih dilaksanakan
tradisi ini. Tradisi ini masih dipelihara dan untuk melaksanakan ritual ini
dilaksanakan pada hari ke 44 sejak kelahiran anak.
Di masyarakat Sepok Laut tradisi Naek Tojang memang kerap dilakukan oleh masyarakat tersebut. Tojang (ayunan), digunakan ibu-ib untuk menidurkan anaknya dengan menggunakan kain sarung yang diikat dengan tali di gantung kayu pada atas rumah miliknya, baik itu dikamar maupun diluar ruangan.
Di dalam tradisi ini, ayunan dipenuhi dengan hiasan di atas ayunannya. Hiasannya di letakkan di atas ayunan bayi tersebut seperti pak law, ketupat, cucur, juga pisang. Pada dasarnya tujuan di adakan adat ritual Naek Tojang adalah untuk mendoakan anak bayi yang baru lahir agar diberikan keselamatan oleh Allah SWT dan menjadi anak yang taat kepada agama dan orang tua.
Setelah mendoakannya, kemudian dilanjutka dengan serakalan (Sholawat barzanji) sambil meminta orang-orang yang serakal untuk memotong rambut bayi tersebut secara bergilir-gilir. Biasanya dengan di adakan adat Naek Tojang ini keluarga, tetangga dan handai taulan turut di undang untuk meramaikan acara ini silaturahmi pun terciptalah. Tentu silaturahmi mempererat rasa persaudaraan.
Di masyarakat Sepok Laut tradisi Naek Tojang memang kerap dilakukan oleh masyarakat tersebut. Tojang (ayunan), digunakan ibu-ib untuk menidurkan anaknya dengan menggunakan kain sarung yang diikat dengan tali di gantung kayu pada atas rumah miliknya, baik itu dikamar maupun diluar ruangan.
Di dalam tradisi ini, ayunan dipenuhi dengan hiasan di atas ayunannya. Hiasannya di letakkan di atas ayunan bayi tersebut seperti pak law, ketupat, cucur, juga pisang. Pada dasarnya tujuan di adakan adat ritual Naek Tojang adalah untuk mendoakan anak bayi yang baru lahir agar diberikan keselamatan oleh Allah SWT dan menjadi anak yang taat kepada agama dan orang tua.
Setelah mendoakannya, kemudian dilanjutka dengan serakalan (Sholawat barzanji) sambil meminta orang-orang yang serakal untuk memotong rambut bayi tersebut secara bergilir-gilir. Biasanya dengan di adakan adat Naek Tojang ini keluarga, tetangga dan handai taulan turut di undang untuk meramaikan acara ini silaturahmi pun terciptalah. Tentu silaturahmi mempererat rasa persaudaraan.
Rabu, 24 Desember 2014
Tradisi robo-robo di tiga wilayah di Kalimantan Barat
Robo-robo dilaksanakan dengan meriah ditiga wilayah pesisir di
Kalimantan Barat. Robo-robo dilaksanakan pada hari Rabu terakhir dibulan
Syafar, Hijriah. Robo-robo menandai kedatangan Empu Daeng Manambon ke wilayah
Mempawah. Yang selanjutnya mendirikan kesultanan Amantubillah. Tiga wilayah
yang menyelenggarakan Robo-robo, yaitu Kota Mempawah, Sungai Kakap di kabupaten
Kubu Raya, dan warga di Delta Sungai Pawan.
Robo-robo di Kabupaten Mempawah
Dikota
Mempawah, pelaksanaan tradisi Robo-robo dihadiri ribuan orang dan utusan dari
berbagai keraton di Nusantara. Kegiatan napak tilas kedatangan Opu Daeng
Manambon menjadikan kuala Mempawah, ramai dipadati pengunjung. Mempawah dalam bahasa Bugis mempang yang berarti tidak bisa ditenggelamkan, dalam bahasa
Dayak Sampau yang berarti asam biru
mani.
Selasa, 18 Maret 2014
Lesuji
Tradisi Masyarakat Bugis Desa Sepok Laut, Sungai kakap kabupaten Kubu Raya
A. Tradisi Lesuji
A. Tradisi Lesuji
Tradisi Lesuji adalah tradisi yang dilakukan oleh orang-orang Bugis. Khususnya di kampung Teluk
Harapan, Desa Sepuk Laut hampir tiap tahunnya ataupun juga tiga
tahunan sekali dalam melaksanakan adat ini, jika mampu maka dilaksanakan tiap
tahun namun, jika tidak mampu dalam hal biaya boleh dilaksanakan tiga tahun
sekali. Karena memerlukan barang yang lumayan mahal karena banyak
bahan-bahannya diantaranya:
Paling Banyak Dibaca
-
Ini adalah cerita tentang bagaimana pengalaman saya nonton film. Saya nonton bukan hanya di TV atau bioskop tetapi banyak situs-situs film...
-
Agak berat pembahasan kali ini, tapi setidaknya saya bisa berbagi tentang berbagai hal yang bisa saya ketahui. Terutama pada bidang filsafa...
-
Siang tadi saya ditelpon oleh seorang sahabat agar saya harus datang juga segera di kampus. Saya mengiyakan dan akan datang di kampus. s...
-
Deretan film-film nasional Indonesia yang pernah syuting di Kalbar. Ada beberapa film yang pernah syuting di Kalbar dan ada juga yang men...
-
Sebagaimana yang diketahui bahwa memajukan kesejahteraan umum merupakan salah satu tujuan nasional negara Republik Indonesia. Tujuan u...
-
Nenek moyang bangsa Nusantara telah memahami, menghayati arti dan kegunaan laut sebagai sarana untuk menjalin berbagai kepentingan ant...
-
Pontianak adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat , Indonesia . Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis k...
-
Akhir-akhir ini saya dapati berbagai macam pesan yang masuk di HP saya. Baik itu di WA, SMS, chat di facebook, dan juga di twiter saya. ...
Halo nama saya Rahmat Menong. Suka Menulis. Twiter: @RahmatSPL. Email: firdausrahmat727@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.




