Jumat, 16 Desember 2016

Pemukiman Tionghoa di Singkawang

Buku ini mengajak pembaca mengerti Tionghoa dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Pemukiman dalam kota nampaknya dapat menggambarkan sejarah Tionghoa secara nyata.

Langkah pertama dalam membaca buku ini adalah melihat kedatangan orang-orang Tionghoa ke pesisir Barat Borneo dan pilihan-pilihan mereka untuk mendiami tempat yang kemudian menjadi pemukiman Tionghoa dengan segala ciri khasnya.

Langkah kedua adalah mengenai tentang kongsi pertambangan emas di Monterado yang berjaya pada paruh pertama pada abad ke-19 dan dihapus pada paruh kedua abad yang sama.

Hal ini penting untuk diketahui untuk melihat sebesar mana perubahan pemukiman di kota Singkawang. Baru setelah itu, pembaca akan sampai pada bab pemukiman yang secara utuh akan menggambarkan dinamikan pemukiman Tionghoa di Singkawang dari mulanya sampai berbagai perubahannya yang tidak saja dipengaruhi oleh dinamika pertambangan emas namun juga intervensi pemerintah kolonial yang mulai berkepentingan di wilayah ini.

Buku ini menjadi sebuah karya yang memiliki kontribusi terhadap kajian orang Tionghoa khususnya di Singkawang. Kajian mengenai pemukiman masyarakat Tionghoa Singkawang merupakan telaah pemukiman yang komprehensif. Ia dengan lihainya mampu mengungkap sejarah awal masuknya orang Tionghoa di Singkawang.

Perkembangan sosial dan pemukiman yang biasanya dikenal sebagai “pecinan”. Historitas dalam buku ini memegang peranan penting dalam melihat bagaimana pemukiman orang Tionghoa Singkawang berkembang dan mengalami perubahan.

Perjalanan perubahan ini pun ditengarai sejalan dengan perubahan politik kekuasaan yang terjadi di Indonesia terutama pada masa pemerintahan kolonial.

Buku ini menjadi salah satu karya yang memperlengkap kajian tentang masyarakat Tionghoa Singkawang khususnya dan berkontribusi pada kajian orang Tionghoa Indonesia pada umumnya.

Keterangan Buku:
Judul      : Pemukiman Tionghoa di Singkawang (Dari Masa Kongsi Hingga Masa Kolonial).
Penulis   : Any Rahmayani
Penerbit  : Penerbit Ombak, 2014. Yogyakarta, 
Share: 

1 komentar:

  1. Emang kisah2 jaman dulu nih layak untuk disimak. Lihat fotonya langsung tertarik. Beda banget sama jaman skr ya Mas

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda