Kamis, 06 April 2017

Perpustakaan Kampus

Perpustakaan Kampus
Oleh: Rahmat Menong

Jangan lupa untuk berbaik sangka dengan seseorang. Itu pesan yang kau ucapkan diwaktu pagi yang cerah tatkala kita sedang asyik-asyiknya membicarakan tentang beberapa foto kegiatan kita di kampus biru ini.

Kau dan aku belumlah terlalu dekat. Kita hanya teman biasa. Kita hanya satu lembaga di sebuah UKM kampus kita ini. Selebihnya tidak ada yang istimewa. Mungkin kalau aku tidak bergabung di UKM ini, mana mungkin aku menemukan seorang gadis yang pernah aku kagumi.

Ya, sepertinya aku sangat mendambakanmu. Tapi dalam pikiranku ini selalu terbentur dan terbenam kata-kata meragu akan dirimu. Apakah kamu juga mendambakanku?

Mendambakan orang itu mudah. Tapi meraih apa yang kita damba itu tidaklah mudah. Kita yang mendambanya belum tentu dia juga mendambakan kita. Sangat sulit bagiku untuk meraih apa yang didamba. Tapi aku percaya, selama kita berjuang tak ada yang mustahil di dunia ini.

Pagi pukul delapan. Tepatnya di depan Perpustakaan Kampus, aku dan kau tak sengaja berpapasan. Mungkin tujuan kita sama. Pinjam buku. Pikir ku dalam hati. Dan ketahuilah, di perpustakaan kampus inilah awal kisah ini dimulai. Kisah banyak yang tak diketahui oleh siapapun juga.

Kau dan aku hanyalah sebatas teman. Teman seperjuangan. Kita dapatkan ilmu dan pengalaman berorganisasi disini. Disinilah tempat kita menempa diri untuk saling membahu, berjuang, berlatih memenej waktu dan masih banyak pengalaman yang tak bisa aku sebutkan disini.

Kau hanya adik tingkat yang pernah ku kenal. Kau memberikan semangat untuk selalu berjuang. Menggapai prestasi. Kini, sesosok gadis adik tingkat yang kukenal berdiri dihadapanku. Tepat di depan halaman perpustakaan kampus. Sengaja aku putuskan untuk menegur sejenak. Kau pun membalas dengan tatapan senyuman. Inilah obrolan terakhir kita tatkala matahari sedang asyiknya-asyiknya memancarkan cahayanya di bumi khatulistiwa ini. 

“Foto bekas kegiatan kita kemaren masih ada”?
“Ada yang hilang bang. Ada yang masih. Emang kenapa Bang”?
“Mau minta. Kan ceritanya akan diposting di blog abang adalah tentang kegitan kita itu . Jadi mau masukin koleksi foto-fotonya. Boleh abang pinta sedikit fotonya?”.
“Oh boleh bang, tapi file fotonya di dalam laptop dan kebetulan laptopnya lagi gak dibawa sekarang.
“Besok kuliah”?
“Kuliah. Dari jam delapan sampai jam setengah enam sore”.
“. Ha? Sampe jam setengah enam. Banyak ya mata kuliahnya. Besok tolong dibawa. Entar diambil fotonya ya”
 “Iya bang. Banyak emang. Empat makul. Tapi jam tujuh bisa kok bang. Abang kuliahnya jam berapa? Eh Magang maksudnya”?
“Oh. Mantap-mantap sama juga  kayak dulu abang pon juga begitu. Waktu semester lima juga gitu.
Jam istirahat saja, gimana”?
Oke bang. Sampai-sampai bawa bekal nih di buatnya. Boleh. Ba`da sholat Zhuhur gimana bang”?
“Hmm. Baguslah. Di Sekre kita ya.
“Oke. Tapi udah izin dengan si dia kan bang? Takutnya dia salah paham”.
“Allahu akbar. Ampuni hambamu yang khilaf ini”.
“E eh kenapa bang?”
“Panjang ceritanya. Kenapa teman-teman selalu bicara seperti itu? Padahal sebaliknya”.
“Soalnya abang dengan si dia tuh udah dekat nampaknya. Abang suka kan sama dia”?
“Aduh gimana mau menjelasinnya ya? Dekat? Sementara waktu belom ade niat utkm begituan. Pacaran”
“Lha kata dianya, abang itu perhatian sama dia”? Iya sih walau gak pacaran, tapi dekat bang”.
“Memang banyak juga yang seperti itu anggapan kawan. Pernah juga dianggap pacaran. Teman sekelas, lalu ada kemaren cowok yang nanyak jugabahwa saya merebut ceweknya.
“Perhatian? Apa salahnya? Owalah. Abang jangan PHP kan perasaan cewek lah bang. Kasian ceweknya. Dia sepertinya suka sama abang”
“Sebenarnya gak tega juga. Tapi mau diapakan lagi. Ini sudah keempat kalinya loh, saya alami seperti ini”.
“Kok abang PHP kan dia, kok bisa nih bang? Tak abis pikir saya bang”.
“Adik tahukan? Ya udah tidak apa-apa ungkapin aja. Sebenarnya abang tuh sukanya dengan mu adek. Tapi, terserahlah”.
“Apa bang? Dengan saya? Kok? Bukannya dengan si dia?
“Hmmm. Memang susah untuk dijelaskan. Memang begitulah adanya. Ya, terserah. Yang penting udah disampaikan proposalnya”.
“Tahu apa bang? Jika tiba waktunya kelak. Jodoh pasti ketemu bang, Eeh. Kejauhan ngomongnya hehhe. Studi dulu saja bang sekarang. Abang tuh mau fokus magang. Saya bentar lagi mau juga magang bang ”.

Tiba-tiba aku terdiam dan tak mengeluarkan kata-kata apapun. Sebab yang kuinginkan hanyalah dirimu. Sengaja, aku mendekati dia agar aku bisa mendapatkanmu. Tapi kenyataan sangat berbeda, dia yang di dekati, malah semakin dekat. Dan itu kesalahan diriku yang terlalu dekat dengannya.

“Bang? Kok tiba-tiba diam”?
“Iya baiklah. Maaf. Ya udah studi aja terlebih dahulu”.
“Loh, maaf untuk apa bang?”
“Tak apa kan hanya suka?”
“Santai saja bang. Lagian selama si dia tak tahu abang suka dengan saya, itu tak apa. Kalo dia tahu, bisa-bisa dia ngira saya yang merebut abang dari dia”.
“Iya kalo itu yang terbaik. Tapi ketahuilah lama-lamaan pun lambat laun, waktu juga akan memberi tahukannya”.
“Memberitahukan apa bang? Tak ngerti  saya”?
Hmm. Bahwa saya suka Anda”
“Oh, tahu itu. udah bang, abang tuh udah saya anggap seperti abang sendiri. Saya tak mau entar si dia tahu gara-gara dia tahu dan gara-gara kita dekat”.
“Oh”
“Maaf bang. Saya gak mau kehilangan sahabat, gara-gara kita dekat. Mana enak bang. Dia kan teman dekat saya”.

Setelah berkata demikian, kau pun langsung masuk di perpustakaan. Kini, tak ada lagi pembicaraan diantara kita. Seolah tak ada terjadi apa-apa. Tapi aku lega, udah pernah ngumkapkan rasa pada seorang gadis yang kusukai. Meskipun tak ada balasan darinya. Ya sudahlah.

Kau dan aku memang tak kan pernah bisa bersatu. Entahlah. Mungkin waktu yang akan mempertemukan kita. Mungkin di waktu dan pada kesempatan yang berbeda. Aku yakin, Tuhan pasti kan member kesempatan untuk bisa bersama dan meraih impian bersamamu.

Aku rasa ini bukan kisah cinta. Dan memang cerita ini jauh dari kata romantis. Kau, yang terungkapkan, namun kau juga harus menghindari kebersamaan kita demi seseorang sahabat sejatimu. Memang betul apa yang dikatakan orang, sahabat itu lebih dari saudara. Sebab dengan sahabatlah kita bisa berbagi senang dan duka. Meskipun tak dipungkiri keluarga adalah yang paling utama.

Dan di depan perpustakaan kampus menjadi saksi tentang kau dan aku yang terpaksa menjauh hanya karena dia. Sahabat sejatimu. Dia yang pernah dekat kini semakin jauh dan kau pun yang akan ku dekat sudah tidak ada lagi. Kau pun menghilang. Entahlah ada dimana mereka berdua. Mungkin sudah jadi milik orang lain atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Semoga Tuhan bisa memberikan kesempatan itu lagi padaku. Buat dia yang pernah dekat. Dan kau yang pernah ku dekat, namun tak kesampaian juga. Salam rindu untuk ku disini. Semoga kalian membaca tulisan ini.

Dimuat di Harian Suara Pemred Kalbar. Minggu, 2 April 2017



Share: 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda