Selasa, 30 Mei 2017

Catatan Sang Pengantin

  Catatan Sang Pengantin
Oleh
Rahmat Menong

Indah masa remaja, sungguh indah. Masa yang tak pernah terulang kembali. Masa yang penuh dengan cita dan cinta. Ini seorang gadis remaja yang penuh cita dan cinta. Sisi namanya. Remaja yang periang. Penuh pesona. Bahagia dengan teman sekolah. Tiada yang mengganggu. Sungguh bahagia.

Tapi dengan banyak teman dan pergaulan dengan sesamanya. Bertemulah ia dengan seorang pria yang seketika itu membuatnya langsung jatuh hati. Ya, jatuh hati pada pandangan yang pertama, berjuta rasanya. Berkenalah ia dengan pria yang bernama Ismail yang kemudian menjadi sahabat dan lambat laun mereka saling mengikat janji sehidup semati. Pernikahan dini.

Entah gerangan apa di umur 17 tahun ini Sisi kemudian di lamar Ismail yang umurnya terpaut hanya tiga tahun. 20 tahun usia pria yang melamarnya itu. Antara bimbang dan gelisah. Di sisi lain Sisi masih berharap ingin melanjutkan belajar hingga ke Perguruan Tinggi. Di sisi lain pula, ia bingung dengan omongan orang kampungnya bahwa buat apa sekolah tinggi-tinggi toh nantinya juga menjadi ibu rumah tangga yang ujung-ujungnya malah ngurus dapur, kasur dan sumur. Ah, takut sekali sekolah.

Sebenarnya bukan ocehan-ocehan orang kampung yang membuatnya gelisah untuk sekolah. Yang membuatnya bingung itu adalah biaya untuk melanjutkannya itu darimana dan pakai apa uangnya. Belum lagi biaya abangnya yang masih kuliah di kota serta adik-adiknya yang juga masih sekolah. Sungguh kewalahan orang tuanya memikirkan biaya sekolah anak-anaknya.

Di buku hariannya, ia menuliskan cita-cita dan sumpah kepada teman-teman seperjuangannya bahwa kelak setelah lulus sekolah di desa ini, ia akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi lagi. Barangkali sumpah dan cita-cita itu sudah diucapkan dihadapan temannya, sebab pada tulisan lainnya ia menceritakan, maaf kepada teman-teman seperjuangannya bahwa ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Ia sudah pasrah, kecewa, merana dengan keadaan. Biarlah ia begini, asalkan adik-adiknya tetap bisa melanjutkan sekolah.

Ini hari pernikahannya, bukan bahagia yang di dapat. Sedih menghinggap, merayap ke dalam dada. Menusuk-nusuk ke lubuk hati yang paling dalam. Mau diapakan lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Keinginan untuk sekolah sudah tidak bisa lagi. Nikmati saja nasi yang telah menjadu bubur, tambahi dengan bumbu-bumbu kehidupan, agar lebih nikmat. Senikmat makannya orang yang sedang lapar. Terimalah apa adanya. Biar waktu yang kan menjawab semua. Pasrahlah.

Tenda, musik, tamu undangan dan penghulu serta kedua mempelai Sisi dan Ismail. Akad sehidup semati pun telah terlaksana. Inilah awal kehidupan rumah tangga mereka. Pernikahan yang sah. Pernikahan yang bukan karena apa-apa. Tapi sebab keadaanlah yang membuatnya, mau tidak mau menerima lamaran pria yang dicintainya. Bukan juga karena paksaan atau pun sebab kecelakaan lainnya.

Di buku hariannya, ia menulis, betapa menyesalnya ia menikah secepat ini. Ia begitu marah kepada ibu, ayah dan abang kakaknya yang kenapa tidak melarang dan menunda pernikahannya dahulu sampai ia bisa sekolah. Kenapa juga tidak dicarikan biaya untuk sekolahnya. Dan kenapa ia harus menderita seperti ini? Kenapa juga ia tidak bicara sendiri untuk belum menikah sedini mungkin. Walaupun Ismail itu juga dicintainya. Cita-cita untuk sekolah mesti harus diwujudkan. Cerita ini, akan tetap dikenangnya hingga akhir hayat dan semoga tidak akan terjadi pada anak-anaknya nanti.





Sepok Laut, 17 Mei 2017
Share: 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda